Dukung Kemandirian Industri Farmasi Dan Alkes, RNI Tandatangani Mou Dengan Bio Farma

JAKARTA – Dalam rangka mendukung percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan (alkes) dalam negeri, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) (RNI) menggandeng PT Bio Farma (Persero) melalui sinergi Pengembangan Bisnis Manufaktur Vial dan Ampul. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilakukan oleh Direktur Utama PT RNI B. Didik Prasetyo bersama Direktur Utama PT Bio Farma M. Rahman Rustan, pada Kamis, 1 Maret 2018, di Gedung RNI, Jakarta.

Turut hadir menyaksikan acara penandatanganan tersebut Plt Asisten Deputi Usaha Industri Agro dan Farmasi I Desty Arlaini, Direktur Keuangan PT RNI M. Yana Aditya, Direktur SDM dan Manajemen Aset Djoko Retnadi, Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi Agung P. Murdanoto, dan Direktur Keuangan PT Bio Farma Pramusti Indrascaryo.

Dalam sambutannya, Didik mengatakan, sinergi ini merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap indutri alkes dan farmasi nasional sesuai dengan amanat Inpres Nomor 6 Tahun 2016. “Kita mesti mengembangkan industri alkes dan farmasi dalam negeri, karena saat ini sebagian besar, hampir 90%, bahan bakunya masih tergantung pada impor,” ungkapnya.

Didik berharap, MoU ini menjadi tonggak bagi BUMN untuk bisa mengembangkan industri farmasi dan alkes Nasional dalam rangka mewujudkan kemandirian. “Saya berharap MoU ini tidak berhenti di sini, oleh karena itu agar dapat segera dibuat Tim, supaya tahun ini sudah bisa dilaksanakan ground breaking untuk pembangunan pabrik vial dan ampul yang merupakan hasil kerjasama antara RNI dengan Bio Farma,” ujarnya.

Sementara itu, Rahman mengatakan, kerjasama ini merupakan salah satu prioritas karena vial dan ampul sangat dibutuhkan dan trennya akan meningkat terus. Ia menambahkan, untuk injeksi obat-obatan di Bio Farma sendiri membutuhkan 35 jt vial per tahun dan sekitar 13 juta ampul per tahun.

“Kami juga inventarisir teman-teman di Gabungan Perusaha Farmasi Indonesia, kebutuhan saat ini sekitar 78 jt vial per tahun dan sekitar 80 jt lebih ampul per tahun, dimana permintaannya akan terus meningkat,” paparnya.

Industri farmasi nasional saat ini didorong untuk terus mengembangkan prodaknya dan membuat produk-produk baru. “Bio Farma sendiri tidak hanya fokus di vaksin, tetapi juga di beberapa produk lain yang membutuhkan vial dan ampul yang tidak sedikit. Semoga kerjasama ini menjadi salah satu bukti BUMN bisa mewujudkan kemandirian, dimulai dengan Vial dan Ampul,” ungkap Rahman.