Kepak Sayap Bisnis RNI Merambah Sarung Tangan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kepak sayap bisnis PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Persero terus dibentangkan. Langkah terkini adalah dengan memperbesar bisnis sarung tangan. Salah satu dasarnya adalah ekspansi bisnis tersebut dinilai lebih menguntungkan, mengingat pangsa pasarnya yang besar.

"Kita punya bahan lateks yang jauh lebih baik," kata Direktur Utama (Dirut) RNI Ismed Hasan Putro kepada ANTARA saat ditemui di sela Rakor BUMN bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Yogyakarta, Rabu (10/10).

Sarung tangan yang selama ini diproduksi perseroan, lanjut dia, bukan hanya digunakan oleh pasar, melainkan rumah sakit. Perseroan sudah mulai ekspansi bisnis ini pada Agustus lalu. "Kita akan meningkatkan kapasitas sarung tangan menjadi 450 ribu gross," tuturnya.

Sebaliknya, perseroan menurunkan kapasitas kondom dari 900 ribu gross menjadi 300 ribu gross. Hal ini disebabkan perseroan akan mengembangkan bisnis sarung tangan. Oleh sebab itu, perseroan akan fokus mengurusi bisnis perkebunan, farmasi dan kesehatan, 'trading' dan distribusi, serta properti.

Ia menambahkan, perseroan juga berencanaa untuk membidik pasar regional pada tahun depan. Rencananya, perseroan bersinergi dengan BUMN yang sudah memili kantor cabang bisnis di Myanmar dalam rangka membangun BUMN persawahan serta perkebunan tebu agar Indonesia memiliki stok gula nasional.

"RNI tidak hanya berhasil di dalam negeri tetapi juga berkolaborasi bisnis dengan Myanmar atau Kamboja ke depan," ujarnya.

Ia merencanakan, perseroan akan menyiapkan lahan di Kamboja. Begitu juga dengan industri hilirnya. Nantinya, beras yang dihasilkan Myanmar akan dibawa ke Indonesia sebagai stok pendukung. Begitu juga dengan tebu dan gula.

"Semuanya diharapkan menjadi cadangan nasional kita selain juga kemampuan kita ke depan dituntut untuk swasembada beras dan gula. Pada titik ini kita tidak boleh hanya berbasis kekuatan di dalam negeri," tuturnya.